Monday, March 26, 2012

TRANSUBSTANSIASI: DARI ROTI-ANGGUR MENJADI TUBUH-DARAH KRISTUS

(Lanjutan permenungan menjelang trihari paskah, dari Ensiklik ECCLESIA DE EUCHARISTIA)

Paus Yohanes Paulus II berkata:

15 Penghadiran sakramental kurban Kristus, yang dimahkotai oleh kebangkitan-Nya, dalam Misa menyangkut kehadiran yang sangat istimewa, yang – dalam kata-kata Sri Paus Paulus VI – “disebut REAL, bukan untuk menolak segala jenis kehadiran lain seolah-olah tidak nyata, melainkan sebab kehadiran pada Misa ini adalah yang paling penuh: kehadiran substansial, di mana Kristus, Allah-Manusia, seluruhnya hadir secara penuh.” [lih. Ensiklik Misterium Fidei (3 September 1965): AAS 57 (1965), 764]. Sekali lagi, ini meneruskan ajaran abadi yang sah dari Konsili Trente: “konsekrasi roti dan anggur menyebabkan pengubahan seluruh substansi roti menjadi tubuh Kristus Tuhan, dan seluruh substansi anggur menjadi substansi darah-Nya. Dan Gereja Katolik yang kudus secara tepat dan khas menyebut perubahan ini TRANSUBSTANSIASI” [lih. Sesi XIII, Dekret tentang Ekaristi Mahakudus (Decretum de SS, Eucharistia), ps. 4: DS 1642]. Sungguh Ekaristi adalah ‘misteri iman’, misteri yang mengatasi pemahaman kita dan hanya dapat diterima oleh iman, sebagaimana sering dikemukakan oleh Bapak-bapak Gereja mengenai sakramen ilahi ini: “Dalam roti dan anggur – kata St. Sirillus dari Yerusalem – janganlah hanya melihat unsur alamiah, sebab Tuhan telah tegas mengatakan bahwa itu adalah tubuh dan darah-Nya: iman memastikan bagimu, kendati indera menunjuk kepada yang lain.” [lih. Katekese Mistagogis (Chatecheses Mystagogica), IV, 6: SCH 126, 138].

‘Adoro te devote, latens Deitas’ [takwa kusujud, Allah yang tersembunyi] terus kita dendangkan bersama Doktor Angelicuslus. Di depan misteri kasih ini, budi manusia sungguh sadar akan keterbatasannya. Maka sadarlah kita mengapa berabad-abad lamanya, kebenaran ini telah mendorong teologi berupaya memahaminya lebih mendalam.

Upaya ini pantas dipuji, sebab semuanya itu membantu memahami sejauh mana mereka sanggup menyumbangkan pemikiran kritis terhadap “iman yang hidup” dari Gereja, sebagai “karisma kebenaran yang pasti” atau “pemahaman mesra atas hal-hal rohani” (DV 8) dari Magisterium, yang terutama dicapai oleh para Kudus. Di sana masih terdapat jarak, sebagaimana ditunjukkan oleh Sri Paus Paulus VI: “Setiap penjelasan teologis yang berupaya memahami misteri ini, agar serasi dengan iman Katolik, haruslah teguh yakin bahwa dalam realitas objektif, lepas dari budi kita, roti dan anggur telah tiada sesudah konsekrasi, sedemikian bahwa yang ada di hadapan kita adalah tubuh dan darah mulia Tuhan dalam rupa sakramental roti dan anggur” [lih. Ensiklik Profesi Iman Meriah (Sollemnis Proffessio Fidei), 30 Juni 1968, 25: AAS 60 (1968), 442-443].

[Dikutip dari Ensiklik Paus Yohanes Paulus II, ECCLESIA DE EUCHARISTIA (Ekaristi dan Hubungannya dengan Gereja), Vatikan: Roma, 2003. Diterjemahkan oleh Mgr. Anicetus B. Sinaga OFM.Cap dan diterbitkan oleh Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI, 2004].

No comments:

Post a Comment