Tuesday, July 31, 2012

KUTUKAN MISIONARIS

( Relung Renung bersama Roedy Haryo )

Setelah check in di bandara Data Dawai Kecamatan Long Pahangai-Kabupaten Kutai Barat, saya bersama Rekan, sahabat dan saudara saya Mas Roedy Haryo ditemani Ketua Stasi Long Lunuk dan
seorang teman Pergerakan menyempatkan diri untuk melihat gereja peninggalan seorang Misionaris Belanda: Pater Pit Sinnema MSF di Stasi Long Lunuk yang tidak jauh dari Bandara Udara Data Dawai.

Rasa Bangga menyelinap saat melihat bangunan gereja yang unik dibangun sang Misionaris dengan ornamen-ornamen bermotif Dayak buatan tangan Sang Misionaris ini yang masih ada di dalam gerejanya. Rasa Bangga atas kerja keras Sang Misionaris yang memiliki kepekaan pelayanan akan kebutuhan umat dengan mendirikan Gereja di pertengahan Mahakam Hulu untuk memperpendek jarak dan memperlancar pelayanan. Ada sebuah bangunan yang dibangun dengan memasang antena radio orari sebagai alat komunikasi saat itu. Namun kini hanya tinggal antena dan bangunan itu. Usaha untuk memperlancar pelayanan dan kebutuhan umat serta masyarakat akan pelayanan transportasi maka Beliau berhasil membuka bandara yang saat ini dinikmati oleh seluruh masyarakat Mahakam Hulu yang melakukan perjalanan dengan menggunakan pesawat dari Samarinda-Data Dawai (pp).

Antara rasa bangga dan salut atas kerja keras sang Misionaris Rendah Hati dan memiliki banyak talenta di bidang informatika dan melukis ini ada rasa haru merenda duka saat menatap hamparan lingkungan gereja yang jadi tempat tinggal sapi masyarakat yang dipenuhi dengan kotorannya serta lingkungan yang tidak terawat dipenuhi rumput dalam kegersangannya. Ada usaha umat dengan swadaya sendiri untuk merawat lingkungan gereja dan berusaha memanfaatkan antena radio orari untuk radio FM yang dikelolah oleh OMK namun terhalang oleh kebijakan sang pemimpin yang ketat bahwa segala sesuatu yang dikerjakan di sekitar lingkungan gereja ini harus seijinnya, maka segalanya dibiarkan terlantar tanpa penghuni. Radio FM yang menjadi salah satu media komunikasi sekaligus media pewartaan dan sangat disenangi oleh umat dan masyarakat pada gilirannya hanya bertahan 3 bulan.

Usaha dan kerja keras sang Misionaris Sejati ini pada gilirannya hanya dikenang dengan sebuah nama jalan di jalan masuk gereja itu. Belajar, melihat salah satu peninggalan Misionaris yang tak terawat ini saya bersama Mas Roedy hanya mengatakan inilah mental kita. Peninggalan Para Misionaris hampir di seluruh wilayah daerah misi hanya tinggal nama namun tidak satupun aset peninggan bersejarah yang menuliskan jejak karya misi hampir tidak ditemukan lagi. Semuanya hilang tanpa bekas. Kita bisa melihat di keuskupan atau paroki dan stasi kita masing-masing. Paling banyak satu atau dua peninggalan para Misionaris yang ada dan kalaupun ada kebanyakan sudah tidak terawat lagi. Selebihnya hilang tanpa bekas. Mengharukan !!

Seiring perkembangan zaman, peninggalan para Misionaris sepertinya hanya menjadi sebuah nama. Kita merasa begitu sulit dan terbebani untuk merawatnya namun merasa bangga dengan menghancurkannya dan mendirikan bangunan megah layaknya istana penguasa. Atas nama pengembangan Gereja Lokal, pengembangan paroki dan stasi kita dengan mudah meluluhlantahkan warisan bersejarah para Misionaris dan menggantikannya dengan bangunan megah. Tugas kita hanya merawat, namun kita tidak bisa. Merawat peninggalan para Misionaris saja tidak bisa apalagi merawat iman umat. Kutukan para Misionaris itu bisa kita saksikan sekarang bahwa di mana-mana banyak yang lebih suka membangun bangunan megah daripada merawat dan mengembangkan peninggalan para misionaris sehingga lupa membangun kerohanian iman umat.Satu hal yang bisa kita petik dan menjadi himkah misi Gereja saat ini adalah: merawat dan mengembangkan peninggalan iman para Misionaris dan bukannya menghancurkannya. Jika kita tidak mampu merawatnya, apalagi membangunnya...semoga Kutukan Misionaris tidak menjadi tragedi dalam Gereja kita.

Jeritan Jejak Para Misionaris Ulu Riam

No comments:

Post a Comment