Saturday, May 19, 2012

LITANI SERBA SALAH ROMO

Kalau romonya muda, dibilang masih bloon.
Kalau romonya tua, sebaiknya pensiun saja.

Kalau khotbah terlalu panjang, dibilang menjengkelkan.
Tapi kalau cepat, “koq kayak kereta ekspres...”

Kalau mulai misa tepat waktu, katanya kaku.
Kalau terlambat, “Idiih... romonya malas.....”

Kalau di kamar pengakuan menasihati, katanya banyak omong.
Kalau sebaliknya, dibilang tidak tanggap.

Kalau mengikuti pendapat umat, dibilang tak punya pendirian.
Kalau pakai pendapat sendiri, dicap diktator.

Kalau keuangan paroki mepet, katanya romo tak pintar usaha.
Kalau ngomong soal uang, dibilang mata duitan.

Kalau mengadakan misa lingkungan, katanya tak pernah kunjungan keluarga.
Kalau mengunjungi keluarga, “Kapan sih, romonya misa lingkungan?”

Kalau romo tak ada di pasturan, dicap tukang ngeluyur.
Tapi kalau ada, “Romo koq nggak pernah pergi-pergi...?”

Kalau memperhatikan anak-anak, dibilang “Masa kecil kurang bahagia...”
Kalau memperhatikan mudika, giliran orangtua ngegosip.

Kalau nonton tv, dibilang enak-enakan.
Kalau tidak, dibilang enggak ngikuti zaman.

Tapi.......
Kalau romonya mati, siapa yang mau ganti?

(dari buku Litani Serba Salah Romo - 100 Cerita Bijak, Yustinus Sumantri Hp., SJ, Kanisius, 2001)

Pesan moral: sebagai umat apakah kita sudah mengasihi imam di Gereja kita? apakah kita terlalu sibuk mendambakan imam yg begini-begitu tanpa pernah membenahi diri sendiri? Imam juga manusia yg membutuhkan doa kita semua! :)

No comments:

Post a Comment